Populasi merupakan
keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa
manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup,
dan sebagainya yang menjadi pusat perhatian dan menjadi sumber data
penelitian. Apabila kita lihat definisi tersebut, pengertian
populasi bisa sangat beragam sehingga kita harus mendefinisikan populasi
tersebut dengan jelas dan tepat.
Berikut ini adalah contoh suatu populasi:
- Populasi Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad)
- Populasi Mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta)
- Populasi Mahasiswa Agroteknologi, Faperta, Unpad
- Populasi Mahasiswa Agroteknologi Angkatan 2009, Faperta, Unpad
- Populasi Mahasiswa Agroteknologi Kelas A, Angkatan 2009, Faperta, Unpad
Apabila kita perhatikan contoh populasi
di atas, pengertian populasi di sana bersifat relatif, pendefinisiannya
tergantung dari si Peneliti, apakah dia ingin mengetahui Populasi
Mahasiswa Unpad secara keseluruhan ataukah hanya tertarik pada populasi
mahasiswa Agroteknologi angkatan 2009 saja.
Kita harus hati-hati dalam mendefinisikan
suatu populasi. Populasi harus didefinisikan dengan jelas dan tepat.
Misalnya, kita ingin mengetahui rata-rata nilai IPK mahasiswa Unpad.
Berarti parameter/sifat/ciri yang ingin diketahui adalah rata-rata nilai IPK mahasiswa dan obyek yang ditelitinya adalah Mahasiswa Unpad.
Jika kita merumuskan populasi seperti ini, rumusannya sudah jelas tapi
belum tepat. Jelas maksudnya: (1) parameter yang ingin diteliti sudah
jelas, yaitu Nilai IPK mahasiswa Unpad dan bukan parameter lain, seperti
tinggi, nilai IQ dan sebagainya (2) populasinya hanya mahasiswa Unpad
bukan nilai IPK mahasiswa dari universitas lain. Belum tepat
maksudnya, apabila kita berbicara tentang mahasiswa Unpad cakupannya
cukup luas. Apakah kita akan mendata nilai IPK semua mahasiswa Unpad
dari semua angkatan, baik yang masih aktif, non aktif, meninggal, DO,
maupun yang sudah lulus?
Dengan demikian, batasan ruang lingkup
dari populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas dan
tepat, karena semua kesimpulan yang nantinya akan diperoleh dari hasil
penarikan contoh (sampel) hanya berlaku untuk populasi yang dimaksud,
bukan untuk populasi yang berada diluar batasan ruang lingkup yang
diberikan.
Perhatikan pendefinisian populasi berikut:
“Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Agroteknologi Angkatan 2009, Faperta Unpad, yang masih aktif”
Pendefinisian populasi seperti ini sudah jelas batas ruang lingkupnya, sehingga kesimpulan apapun yang diberikan terhadap suatu sampel yang diambil dari populasi tersebut hanya berlaku untuk populasi yang dibatasi oleh Mahasiswa Agroteknologi Angkatan 2009, Faperta, Unpad, yang masih aktif kuliah dan tidak berlaku untuk mahasiswa lainnya yang berada diluar ruang lingkup tersebut. Jadi hanya menggambarkan keadaan rata-rata nilai IPK mahasiswa pada ruang lingkup tersebut.
Populasi dapat dibagi berdasarkan
keadaan (kompleksitasnya) dan berdasarkan ukurannya. Menurut keadaannya
populasi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu Populasi Homogen, dan
Populasi heterogen. Berdasarkan ukurannya, populasi juga dibagi menjadi
dua bagian yaitu Populasi terhingga, dan Populasi tak terhingga.
Populasi berdasarkan keadaannya:
Populasi Homogen: populasi dikatakan homogen
apabila unsur-unsur dari populasi yang diteliti memiliki sifat-sifat
yang relatif seragam satu sama lainnya. Karakteristik seperti ini
banyak ditemukan di bidang eksakta, misalnya air, larutan, dsb. Apabila
kita ingin mengetahui manis tidaknya secangkir kopi, cukup dengan
mencoba setetes cairan kopi tersebut. Setetes cairan kopi sudah bisa
mewakili kadar gula dari secangkir kopi tersebut.
Populasi Heterogen:
populasi dikatakan heterogen apabila unsur-unsur dari populasi yang
diteliti memiliki sifat-sifat yang relatif berbeda satu sama lainnya.
Karakteristik seperti ini banyak ditemukan dalam penelitian sosial dan
perilaku, yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan
manusia yang bersifat unik dan kompleks. Misalnya, apabila kita ingin
mengetahui rata-rata IQ mahasiswa Unpad angkatan 2009 (berarti rata-rata
dari semua Fakultas). Jelas, rata-rata IQ mahasiswa antar Fakultas
kemungkinan besar bervariasi, IQ mahasiswa Fakultas Kedokteran relatif
lebih tinggi dibanding dengan rata-rata IQ mahasiswa Fakultas lainnya,
sehingga kita bisa mengatakan bahwa populasi tersebut keadaannya
heterogen. Untuk mengatasi populasi yang heterogen dalam melakukan
penelitian, perlu adanya pengelompokan berdasarkan karakteristiknya,
sehingga dari populasi yang ada digrupkan dalam beberapa kelompok, yang
nantinya kelompok-kelompok tersebut akan hogomen dalam kelompoknya,
tetapi kelompok-kelompok tersebut sangat heterogen diantara kelompkonya.
Pada pemisalan sebelumnya, kelompok identik dengan Fakultas.
Populasi berdasarkan ukurannya:
Populasi terhingga: Populasi dikatakan terhingga
bilamana anggota populasi dapat diperkirakan atau diketahui secara
pasti jumlahnya, dengan kata lain, jelas batas-batasnya secara
kuantitatif, misalnya:
- Banyaknya Mahasiswa Agroteknologi Kelas A, Angkatan 2009, Faperta, Unpad
- Tinggi penduduk yang ada di kota tertentu
- Panjang ikan di sebuah danau
Populasi tak hingga: populasi dikatakan tak hingga
bilamana anggota populasinya tidak dapat diperkirakan atau tidak dapat
diketahui jumlahnya, dengan kata lain, batas-batasnya tidak dapat
ditentukan secara kuantitatif, misalnya:
- Air di lautan
- Banyaknya pasir yang ada di Pantai Pangandaran.
- Banyaknya anak yang menderita kekurangan gizi
-
Kedalaman suatu danau yang diukur dari berbagai titik
Sampel
Dalam statistik inferensial, kita ingin
mengetahui gambaran karakteristik tertentu dari suatu populasi, namun
terkadang hal tersebut terkadang tidak mungkin dan tidak praktis untuk
mengamati seluruh obyek/individu yang menyusun suatu populasi. Pedagang
eceran beras hanya meneliti segenggam beras untuk menentukan kualitas
sekarang beras. Pedagang emas hanya meneliti bekas gosokan dari
perhiasan tersebut untuk menentukan kualitas emas perhiasan tersebut.
Peneliti lingkungan hanya meneliti beberapa milliliter air untuk
menentukan kualitas air pada suatu sungai atau danau. Pertanyaannya,
mengapa tidak meneliti secara keseluruhan, bukankah hasilnya akan lebih
baik dan lebih tepat?
Mengingat seorang peneliti dalam
melakukan penelitian penuh dengan keterbatasan baik dari segi biaya,
waktu, dan lain sebagainya maka penelitian yang dilakukan untuk
mengumpulkan informasi atau data yang diinginkan sesuai dengan
permasalah yang diteliti ditempuh dengan mengambil sebagian dari
populasi, dengan mempertimbangkan ketebatasan yang ada dari peneliti.
Bagian dari populasi tersebut sebagai tempat untuk mengumpulkan
informasi dinamakan contoh (sampel).
Dengan demikian, sampel merupakan
bagian dari populasi yang dipilih dengan menggunakan aturan-aturan
tertentu, yang digunakan untuk mengumpulkan informasi/data yang
menggambarkan sifat atau ciri yang dimiliki populasi.
Dari definisi tersebut jelas bahwa sampel
yang kita ambil digunakan untuk menggambarkan karakteristik suatu
populasi, atau dengan kata lain, sampel digunakan untuk menggeneralisasi
suatu populasi. Dengan demikian, sampel harus betul-betul bersifat
representatif sehingga dapat mewakili dan mencerminkan karakteristik
populasi dari mana sampel itu diambil.

Gambaran Sampel Representatif
Seorang peneliti, jarang mengamati keseluruhan populasi karena dua alasan:
- Biaya terlalu tinggi dan
- Populasi bersifat dinamis, yaitu unsur-unsur populasi bisa berubah dari waktu ke waktu.
Ada tiga keuntungan utama pengambilan sampel:
- Biaya lebih rendah,
- Pengumpulan data lebih cepat, dan
- Hal ini mungkin untuk memastikan keseragaman dan untuk meningkatkan akurasi dan kualitas data karena kumpulan data lebih kecil .
Jenis-Jenis sampel
Dalam proses pemilihan sampel ada dua faktor penentu yang berperan yaitu:
- Ada atau tidak adanya faktor pengacakan, dan
- Peran orang yang memilih (mengambil) sampel tersebut.
Pada proses pengambilan sampel
dengan menggunakan faktor pengacakan didalamnya termasuk unsur-unsur
peluang, sedangkan peran dari orang pemilih sampel dapat bersifat
obyektif dan dapat pula bersifat subyektif.
Yang dimaksud dengan sikap obyektif
dalam memilih sampel adalah suatu cara pemilihan sampel yang
menggunakan metode tertentu yang jelas, sehingga penarikan sampel
tersebut bila dilakukan oleh orang lain akan diperoleh hasil yang tidak
jauh berbeda dari penarikan sampel sebelumnya, dalam menduga sifat atau
ciri populasinya. Jadi dengan pengambilan sampel dengan menggunakan
metode tertentu dan jelas, akan diperoleh sampel yang konsisten, artinya
bila pengambilan sampel dilakukan secar berulang-ulang terhadap
populasi yang sama hasilnya tetap terkendali dalam arti tetap
menggambarkan sifat atau ciri dari populasinya, walaupun hasilnya tidak
persis sama antara yang satu dengan yang lainnya.
Sifat subyektif dalam memilih sampel
adalah suatu pemilihan sampel dengan melibatkan pertimbangan pribadi
dari pengambil sampel untuk mengambil sampel yang baik menurut
versinya sendiri (versi peneliti). Dengan demikian sampel yang diperoleh
merupakan sampel yang berbias, apalagi orang yang memilih cotnoh sampel
mempunyai latar belakang yang kurang terhadap konsep statistika
khususnya konsep tentang teori penarikan sampel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar